Pages

Rabu, 06 Oktober 2010

Latar Belakang Bagaimana dan mengapa buku ini ditulis


Tiga puluh lima tahun yang lalu, saya termasuk salah satu pemuda yang paling malang hidupnya di New York. Saya bekerja sebagai pedagang truk, saya tidak menyukai pekerjaan tersebut. Saya muak dan malu tinggal di kamar murahan dan jorok di West Fifth-sixth Street. Kamar yang penuh dengan kecoak. Saya masih ingat, pada suatu pagi saat ingin mengambil dasi dari gantungan, kecoak-kecoak berhamburan lari tunggang langgang ke segala penjuru.

Setiap malam saya pulang ke kamar saya yang sunyi dengan kepala pusing. Saya berontak karena impian indah sewaktu di bangku kuliah berubah menjadi mimpi yang amat buruk yakni melakukan pekerjaan yang saya benci, tinggal bersama kecoak dan makan makanan yang jelek serta tidak ada harapan masa depan sama sekali. Saya merindukan saat-saat santai membaca dan menulis buku seperti yang pernah saya mimpikan sewaktu di bangku kuliah.

Saya tahu dengan menghentikan pekerjaan ini tidak akan rugi, saya ingin membuat hidup saya bersemarak dan penuh kebahagiaan. Pendek kata, saya telah sampai ke Rubicon. Artinya sudah tiba saatnya untuk mengambil sebuah keputusan besar. Dan dengan keputusan tersebut hidup saya berubah dan hidup saya selama tiga puluh lima tahun terakhir ini menjadi bahagia dan menguntungkan, jauh melebihi cita-cita yang saya bayangkan.


Keputusan saya begini, saya menghentikan pekerjaan yang selama ini saya benci. Selanjutnya, karena saya pernah kuliah selama empat tahun di State Teachers College di Warrensburg,Missouri, sebagai guru maka saya bermaksud mencari nafkah dengan mengajar di malam hari. Dengan demikian saya punya waktu luang di siang hari yang bisa saya pergunakan untuk menyiapkan pelajaran, menulis novel serta cerita pendek. Saya ingin hidup untuk menulis dan menulis untuk hidup.

Setelah beberapa tahun berjalan, saya jadi sadar bahwa persoalan yang paling besar yang mereka hadapi adalah masalah kesedihan hati dan kekhawatiran. Saya mulai menulis buku ini tujuh tahun yang lalu dengan jalan membaca apa yang dikatakan oleh filsuf dari segala zaman mengenai rasa sedih hati. Saya juga membaca beratus-ratus biografi, dari Konfusius sampai Churchill. Selain itu saya juga mewawancarai orang terkemuka dari berbagai tingkat kehidupan seperti Jack Dempsey, Henry Ford, Eleanor Roosevelt, dan Dorothy Dix.

Buku ini jangan hanya dibaca untuk sekedar mengetahui bagaimana isinya. Anda mesti bertindak. Nah, Sekarang Mari kita mulai untuk mendapatkan kekuatan baru serta inspirasi baru untuk menghabisi rasa sedih dan kemudian bisa menikmati hidup yang menyenangkan.


Dale Carnegie

0 komentar:

Posting Komentar

Terima kasih atas partisipasi anda dalam memberikan komentar.